BIG PROMO - SPESIAL DISKON 50%. WAKTU TERBATAS. KLIK DISINI UNTUK MENDAPATKAN KUPONNYA >>



Prestasi Olah Raga Dari Sekolah

Posted by Super Marketer on

Prestasi olah raga  dari sekolah beberapa waktu yang lalu telah kita saksikan pembuktiannya, yaitu dengan prestasinya telah mengharumkan nama bangsa ketika gelaran Asian Games ke 18 yang dilaksanakan di Jakarta-Palembang, ada beberapa atlit yang dengan membanggakan memberikan medali terbaik untuk mengangkat nama bangsa di pentas internasional.

Medali emas pertama diraih seorang atlit wanita dari cabang tae kwondo, “Defia Rosmaniar”, lalu disusul dengan medali emas dari cabang olah raga lain, dan kita saksikan medali emas terbanyak diperoleh dari cabang pencak silat, tidak ketinggalan medali perak dan perunggu telah diraih atlit-atlit Indonesia pada pelbagai cabang olah raga yang dipertandingkan.

Hal yang menarik perhatian dari kita adalah para atlit yang memperoleh medali pada Asian Games tersebut sebagian besar prestasinya telah mereka rintis sejak usia sekolah, bibit kecintaan terhadap olah rag mulai tertanam ketika masa-masa mengikuti kegiatan olah raga yang ada di sekolah hingga kemudian berlanjut pada jenjang prestasi. Pembinaan yang terus menerus telah melahirkan para atlit yang bermental juara sehingga torehan medali yang diperolaeh pada ajang Asian Games adalah buah dari proses perjalanan panjang mereka dan tidak dengan mudah mereka melaluinya.

Contoh lain dalam pembinaan prestasi olahraga yang dimulai dari sekolah kita dapat belajar dari timnas sepak bola Jerman yang menjuarai piala konfederasi pada tahun 2016. Sebelum pergelaran turnamen ini dimulai, bursa prediksi banyak yang menjagokan Jerman sebagai calon kuat peraih juara Piala Konfederasi tahun ini. Bagaimana tidak, selain berstatus sebagai juara bertahan piala dunia, Jerman juga merupakan tim yang sangat ditakuti di Eropa bahkan dunia. Ditambah pengalaman bertanding dan jam terbang tinggi pemain Jerman yang notabene merupakan pemain yang selalu menjadi tim inti di klubnya masing-masing, cukup membuat publik meyakini bahwa Jerman akan keluar sebagai juara.

Namun tidak disangka-sangka, ketika pengumuman pemain yang akan dibawa ke Rusia, pelatih kepala Jerman, Joachim Loew malah membuat publik terkejut. Alih-alih menurunkan The Winning Team ketika menjuarai Piala Dunia 2014, Loew malah memanggil skuat Jerman yang mengisi kelompok usia U-23. Ia meninggalkan kiper utama Jerman yang dianggap sebagai kiper terbaik dunia saat ini karena mengalami cedera. Sebagai gantinya ia memanggil kiper muda potensial Barcelona, Marc-Andre Ter Stegen dan dilapisi oleh Bernd Leno dan Kevin Trapp, yang juga seangkatan dengan Ter Stegen. Ia juga meninggalkan gelandang-gelandang kreatif semacam Toni Kroos, Mesut Oezil, Sami Khedira, Marco Reus, dan Thomas Mueller. Ia malah memanggil pengatur serangan Schalke yang namanya tidak terlalu beken bernama Leon Goretzka untuk mengisi pos yang ditinggalkan Oezil. Bahkan ia tanpa ragu menunjuk seorang kapten yang baru saja berusia 23 tahun.

Awal turnamen, mungkin banyak yang meragukan bahwa timnas muda Jerman akan sanggup menjuarai turnamen seperti dugaan sebelumnya. Selain karena miskin pengalaman, mereka juga harus bertanding melawan tim kuat seperti Chile yang diisi oleh pemain-pemain matang dan sarat akan pengalaman dan juga berhadapan dengan Portugal, sang jawara Eropa yang memiliki pemain terbaik dunia, Cristiano Ronaldo.

Namun Loew membuktikan bahwa kepercayaannya pada Panzer Muda tidak salah. Anak-anak yang dianggap sebelah mata itu toh pada akhirnya tetap menjuarai piala konfederasi setelah mengalahkan jawara Amerika Selatan, Chile, melalui gol tunggal Lars Stindl memanfaatkan blunder pemain senior Chile, Marcelo Diaz.

Belajar dari kesuksesan timnas Jerman didapat  bukannya instan. Pemerintah Jerman tidak segan mengeluarkan ratusan juta euro untuk membangun kultur juara dalam tubuh pesepak bola timnas Jerman. Dimulai dengan membenahi kompetisi, membangun stadion berkualitas, pembinaan pemain muda, hingga sarana dan prasarana latihan  nomor wahid telah dimiliki oleh Jerman. Maka tak heran apabila kurikulum sepak bola Jerman menjadi yang paling ditakuti di seantero dunia, karena teknologi temuan Jerman, bernama Futbonaut terbukti sanggup membentuk kualitas permainan pemain-pemain Jerman menjadi mumpuni.

Betapa pentingnya pendidikan olah raga dengan kurikulum dan sarana prasarana yang memadai untuk membantu tumbuh kembang anak menjadi optimal. Dengan adanya kualitas pendidikan yang baik dan merata, tidak hanya tentang sepak bola, hal inipun berlaku untuk semua jenis cabang olah raga, dengan kurikulum dan pembinaan sejak awal setidaknya akan membentuk jati diri pemuda Indonesia menjadi lebih baik, bermental tangguh, tahan banting, dan produktif untuk usia belia.

Indonesia pun tak bisa dipungkiri memiliki kemungkinan untuk dapat mengembangkan potensi pemuda-pemuda pribumi dengan sistem pendidikan yang memadai. Setelah kualitas pendidikan memadai, tentulah para pemuda akan menunjukkan produktivitasnya sesuai dengan kualitas pendidikan yang telah mereka ambil.

Pemuda yang bergelut di bidang olahraga, akan memajukan perolahragaan di Indonesia dan membuka mata dunia agar tak merendahkan Indonesia. Pemuda yang bergelut di bidang pengetahuan, akan memiliki kemungkinan besar untuk menjadi ilmuwan yang akan dicari di seluruh penjuru dunia.

Maka setelah produktivitas ini telah berkembang, segala masalah di berbagai sektor pun dapat ditemukan solusi terbaiknya. Pemuda-pemuda yang telah mengenyam pendidikan tinggi ini, dengan produktivitasnya akan menjadi pelopor dalam perbaikan dan prestasi untuk masyarakat dan negara.

Bonus demografi yang dimiliki bangsa Indonesia telah lama didengungkan untuk menyongsong kejayaan bangsa agar disegani bangsa-bangsa di dunia termasuk bidang olahraga, sudah saatnya sukses Asian Games yang telah diraih menjadi modal penting untuk mempersiapkan prestasi olah raga, menjadi harapan dan impian kita bersama dengan mengawalinya dari sekolah.