BIG PROMO - SPESIAL DISKON 50%. WAKTU TERBATAS. KLIK DISINI UNTUK MENDAPATKAN KUPONNYA >>



Mengoptimalkan Keberadaan Kurikulum 2013 dengan Bijak dan Efektif

Posted by Sesep Saepul Alam on

Pendidikan adalah modal penting bagi masa depan seorang anak. Berawal dari pendidikan di bangku sekolah, anak akan bisa mendapatkan banyak ilmu yang menjadi bekal untuk menggapai cita-cita. Bicara tentang pendidikan tentu tak bisa lepas dari kurikulum. Ibarat rumah, kurikulum adalah pondasi yang menjadi dasar untuk membangun.

Dari berbagai kurikulum yang pernah diterapkan pada pendidikan di Indonesia, kurikulum 2013 banyak menjadi bahan perbincangan. Tak hanya di kalangan akademis dan praktisi pendidikan, tapi juga masyarakat. Orangtua anak-anak yang menjadi murid dan merasakan langsung kurikulum 2013 pun tak lepas dari sini. Lantas seperti apa sebenarnya kurikulum 2013 tersebut?

Kurikulum 2013 sudah diterapkan sejak 2014, tapi penerapannya masih terbatas dan bertahap. Pada awal penerapan kurikulum 2013, belum semua sekolah menerapkannya dan tidak semua kelas pada sekolah tersebut menerapkan kurikulum 2013.

Mulai 2018 ini, kurikulum 2013 harus digunakan pada semua sekolah di tingkat pendidikan dasar dan menengah. Namun tidak semua guru menyambut baik kebijakan ini, masih banyak guru yang menemui kesulitan dalam menerapkan kurikulum 2013. Tidak sedikit pula pendapat negatif dari praktisi pendidikan tentang kurikukum 2013 dan hal ini menjadikan beban bagi guru yang merupakan ujung tombak dalam proses KBM (Kegiatan Belajar Mengajar) di sekolah.

Keluhan guru pada penerapan kurikulum 2013 salah satunya adalah topik yang banyak pada setiap mata pelajaran tetapi jam mengajar yang sedikit. Ini membuat para guru khawatir ada topik-topik yang tidak dapat tersampaikan pada siswa. Mengenai topik yang banyak dan jam mengajar yang sedikit sebenarnya bisa disiasati dengan pembelajaran yang tidak lagi berpusat pada guru, tetapi membuat siswa aktif dalam pembelajaran (active learning).

Selain itu juga bisa dilakukan manajemen pembelajaran yang efektif dan efisien. Misalnya guru bisa membahas satu topik dalam 2-3 jam mata pelajaran dengan memfasilitasi siswa dalam kelompok untuk berdiskusi. Kelompok diskusi terdiri dari enam kelompok, dengan tiap dua kelompok membahas salah satu persepektif/kajian dari topik tersebut lalu dipresentasikan oleh perwakilan kelompok dari tiap persefektif/kajian. Presentasi tentunya menampilkan hasil diskusi yang terbaik dan yang kurang untuk diminta tanggapan dari kelompok lain. Guru kemudian mengonfirmasi dan menguatkan hasil dari diskusi tersebut dan pada akhirnya seluruh siswa bisa menarik kesimpulan dari satu topik tersebut secara utuh.

Jadi penerapan kurikulum 2013 memang menuntut guru untuk inovatif, pro aktif, dan bisa membuat siswa aktif dalam pembelajaran. Melalui kurikulum 2013 ini siswa diharapkan mempunyai keterampilan abad 21 dengan memiliki softskill 4C (Communication, Collaboration, Critical Thinking and Problem Solving, dan Creativity and Innovation). Selain itu juga siswa akan dilatih untuk mengasah kemampuan berpikir kritis, logis, reflektif, metakognitif, serta berpikir kreatif yang merupakan kemampuan berpikir tingkat tinggi (Higher Order of Thinking Skill/HOTS).

Beban yang lain yang dirasakan guru adalah dokumen administratif kurikulum 2013 yang menurut guru sangat banyak. Dokumen ini mulai dari penyusun RPP, pendesainan instrumen penilaian, dan pengolahan dan pelaporan hasil penilaian. Sebetulnya dokumen administratif untuk kurikulum 2013 ini tidak terlalu sulit, namun terkadang dianggap beban karena belum terbiasa. Kendati demikian, hal ini sebenarnya bisa disiasati. Apabila ada kesulitan dalam template dan cara menyusun dokumen, hal ini bisa ditanyakan pada rekan guru yang lebih mengerti atau sudah ikut pelatihan. Selain itu mencari referensi di internet juga bisa dijadikan pilihan.

Yang jelas, bila diberi kesempatan untuk ikut pelatihan kurikulum 2013, guru tersebut harus pro aktif, sehingga dalam penyusunan dokumen administratif untuk kurikulum 2013 dan permasalahan-permasalahan dalam penerapan kurikulum 2013 dapat dicarikan solusinya. Guru juga bisa meminta bantuan kepada rekan guru, atau berbagi tugas dengan sesama guru di komunitas sekolah dalam menyusun dokumen administratif kurikulum 2013 di awal tahun pembelajaran.

Jalan lain yang bisa ditempuh adalah mengefektifkan peran komunitas (KKG/MGMP) dengan saling berbagi informasi dan membuka forum diskusi. Ini tentunya akan sangat membantu guru dalam menerapkan kurikulum 2013. Akan lebih baik lagi bila komunitas tersebut bisa membuat kegiatan yang dapat memberikan penguatan kurikulum 2013 dan pelatihan kurikulum 2013 secara mandiri.

Artikel