BIG PROMO - SPESIAL DISKON 50%. WAKTU TERBATAS. KLIK DISINI UNTUK MENDAPATKAN KUPONNYA >>



Inilah 12 Tokoh Santri Yang Berpengaruh

Posted by Super Marketer on

Pada tahun 2018 ini tanggal 22 oktober adalah tahun keempat hari santri nasional diperingati. Makna dasar kata santri menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti orang yg mendalami agama Islam, pengertian lain yaitu orang yg beribadat dengan sungguh-sungguh atau orang yg saleh.

Santri dan perannya, kini tidak bisa dilihat sebelah mata lagi, ada sekian orang dari kalangan santri yang kini memiliki peran penting di lingkungan tingkat bawah hingga di tingkat nasional bahkan internasioanal. Menghargai santri sama dengan menghargai asset bangsa.

Dalam kesempatan ini,  “Diva Pendidikan” memberikan apresiasi terhadap beberapa tokoh dari kalangan santri yang telah memberikan peran penting di tengah-tengah masyarakat. Inilah 12 orang santri  yang telah diakui kiprahnya juga punya peran penting di dunia pendidikan Indonesia

 1. K H HASYIM ASY’ARI

Kyai Haji Mohammad Hasyim Asy'ari merupakan tokoh santri yang banyak diakui peran dan jasa-jasanya bagi perjalanan bangsa Indonesia. Beliau lahir di Jombang, Jawa Timur pada tanggal 14 Februari 1871  dan meninggal pada umur 76 tahun pada tanggal 21 Juli 1947

Sejak usia 15 tahun, ia berkelana menimba ilmu di berbagai pesantren, antara lain Pesantren Wonokoyo di Probolinggo, Pesantren Langitan di Tuban, Pesantren Trenggilis di Semarang, Pesantren Kademangan di Bangkalan dan Pesantren Siwalan di Sidoarjo.

Setelah beliau kembali dari berguru ke Mekkah pulang ke kampung halamannya ia mendirikan pondok pesantren Tebuireng Jombang kemudian beliau mendirikan organisasi Nahdatul Ulama (NU), organisasi Islam terbesar di Indonesia.

Pada tanggal 22 Oktober 1945 beliau memberikan fatwa jihad melawan penjajah atau yang dikenal dengan dengan resolusi jihad yang berbunyi dari 5 point :

Kemerdekaan Indonesia yang diproklamasikan pada tanggal 17 Agustus 1945 wajib dipertahankan.
  • Republik Indonesia sebagai satu-satunya pemerintahan yang sah, wajib dibela dan diselamatkan.
  • Musuh Republik Indonesia, terutama Belanda yang datang dengan membonceng tugas-tugas tentara Sekutu (Inggris) dalam masalah tawanan perang bangsa Jepang tentulah akan menggunakan kesempatan politik dan militer untuk kembali menjajah Indonesia.
  • Umat Islam terutama NU wajib mengangkat senjata melawan Belanda dan kawan-kawannya yang hendak kembali menjajah Indonesia.
  • Kewajiban tersebut adalah suatu Jihad yang menjadi kewajiban tiap-tiap orang Islam (fardlu ‘ain) yang berada pada jarak radius 94 km (jarak di mana umat Islam diperkenankan shalat jama’ dan qasar). Adapun mereka yang berada di luar jarak tersebut berkewajiban membantu saudara-saudaranya yang berada dalam jarak radius 94 km tersebut.

    Dengan dikeluarkannya resolusi jihad ini, maka setiap tanggal 22 Oktober oleh pemerintahan Indonesia dijadikan sebagai hari santri nasional.

     2. K H. AHMAD DAHLAN

    Kyai Haji Ahmad Dahlan atau Muhammad Darwis adalah seorang Pahlawan Nasional Indonesia dan tokoh pendidikan dari kalangan santri, pendiri organisasi Muhammadiyah.  Beliau lahir di Yogyakarta, 1 Agustus 1868 – meninggal di Yogyakarta, 23 Februari 1923 pada umur 54 tahun.

    Di samping aktif dalam menggulirkan gagasannya tentang gerakan dakwah Muhammadiyah, ia juga dikenal sebagai seorang wirausahawan yang cukup berhasil dengan berdagang batik yang saat itu merupakan profesi wiraswasta yang cukup disegani di masyarakat.

    Pada tahun 1912, Ahmad Dahlan pun mendirikan organisasi Muhammadiyah untuk melaksanakan cita-cita pembaruan Islam di bumi Nusantara. Ahmad Dahlan ingin mengajak umat Islam Indonesia untuk kembali hidup menurut tuntunan al-Qur'an dan al-Hadits. Perkumpulan ini berdiri bertepatan pada tanggal 18 November 1912. Dan sejak awal Dahlan telah menetapkan bahwa Muhammadiyah bukan organisasi politik tetapi bersifat sosial dan bergerak di bidang pendidikan.

     3. K H WAHID HASYIM

    Abdul Wahid Hasyim adalah salah satu putra bangsa yang turut mengukir sejarah negeri ini pada masa awal kemerdekaan Republik Indonesia.Terlahir Jumat Legi, 5 Rabi’ul Awal 1333 Hijriyah atau 1 Juni 1914, Wahid mengawali kiprah kemasyarakatannya pada usia relatif muda. Setelah menimba ilmu agama ke berbagai pondok pesantren di Jawa Timur hingga ke Mekah.

    Pada usia 21 tahun Wahid membuat “gebrakan” baru dalam dunia pendidikan dengan semangat memajukan pesantren, Wahid memadukan pola pengajaran pesantren yang menitikberatkan pada ajaran agama dengan pelajaran ilmu umum. Sistem klasikal diubah menjadi sistem tutorial. Selain pelajaran Bahasa Arab, murid juga diajari Bahasa Inggris dan Belanda. Itulah madrasah nidzamiyah.

    Aktivitasnya telah banyak mewarnai perjalanan hidupnya. Beliau ernah menjadi Ketua PBNU, anggota Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) dan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI), hingga Menteri Agama pada tiga kabinet (Hatta, Natsir, dan Sukiman). Banyak kontribusi penting yang diberikan Wahid bagi agama dan bangsa.

    Rumusan "Ketuhanan Yang Maha Esa" dalam Pancasila sebagai pengganti dari "Kewajiban Menjalankan Syariat Islam bagi Pemeluknya" tidak terlepas dari peran seorang Wahid Hasjim. Wahid dikenal sebagai tokoh yang moderat, substantif, dan inklusif

    4. KI HAJAR DEWANTARA

    Ki Hajar Dewantara, lahir 25 Februari 1889  adalah  salah  satu  seorang  putra  terbaik  negeri  ini yang memiliki pemikiran yang sangat maju pada zamannya dalam memperjuangkan pendidikan. Bahkan, hasil pemikirannya tentang pendidikan masih relevan hingga saat ini.

    Ajaran Ki Hajar Dewantara yang saat ini dipakai  yaitu Ing Ngarso Sung Tulado, Ing Madya Mangun Karso, dan Tut Wuri Handayani. Falsafah Ing Ngarso Sung Tulado bermakna seorang guru hendaknya memberi teladan yang baik kepada murid-muridnya. Ing Madya Mangun Karso, menyiratkan seorang guru harus terus untuk membuat inovasi dalam pembelajaran. Dengan Tut Wuri Handayani, maka seorang pendidik harus dapat membangkitkan motivasi, memberikan dorongan pada anak didiknya untuk terus maju, berkarya, dan berprestasi.

    Beliau lahir dari kalangan bangsawan, nama kecilnya adalah Suwardi Suryaningrat yang kemudian karena banyak bersentuhan dalam pemikiran dan peraulan dari semua kalangan. Pergaulan dengan kalangan santri salah satunya kesediaan beliau untuk menjadi ketua “Syarikat Islam” cabang Bandung, organisasi yang didirikan HOS Cokroaminoto.

    Hari Pendidikan nasional yang kita peringati setiap tanggal 2 mei, dikaitkan dengan hari lahir Ki Hajar Dewantara pada tahun 1889 sebagai bukti penghormatan atas jasa-jasanya dalam memajukan pendidikan di Indonesia.

    5. KH ABDUL MALIK KARIM AMARULLAH

    Prof. DR. H. Abdul Malik Karim Amrullah, atau yang biasa kita kenal dengan nama Hamka adalah seorang tokoh pendidikan dari kalangan satri yang tak dipungkiri lagi perannya sejak sebelum kemerdekaan maupun  setelah kemerdekaan bahkan hingga zaman orde baru. Beliau lahir pada tanggal 17 Februari 1908 di Nagari Sungai Batang, Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Sumatera Barat,

    Selain berkiprah di dunia pendidikan, beliaupun dikenal sebagai seorang ulama dan sastrawan Indonesia. Ia melewatkan waktunya sebagai wartawan, penulis, dan pengajar. Ia terjun dalam politik melalui Masyumi sampai partai tersebut dibubarkan, menjabat Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) pertama, dan aktif dalam Muhammadiyah sampai akhir hayatnya. Universitas al-Azhar dan Universitas Nasional Malaysia menganugerahkannya gelar doktor kehormatan, sementara Universitas Moestopo, Jakarta mengukuhkan Hamka sebagai guru besar.

    Namanya disematkan untuk Universitas Hamka milik Muhammadiyah dan masuk dalam daftar Pahlawan Nasional Indonesia. Beliau meninggal di Jakarta, 24 Juli 1981 pada umur 73 tahun.

    6. K H ABDUL HALIM

    K.H. Abdul Halim adalah Pahlawan Nasional dari kalangan santri dan banyak kiprahnya di dunia pendidikan. Beliau lahir di Desa Ciborelang, Jatiwangi, Majalengka. Sejak kecil Kiai Halim tergolong anak yang gemar belajar, Ketika menginjak usia dewasa, Kiai Halim mulai belajar di berbagai Pondok Pesantren di wilayah Jawa Barat kemudian dilanjutkan ke Mekkah bersama-sama KH Hasyim Asy’ari, KH Ahmad Dahlan dan yang lainnya

    Setelah tiga tahun belajar di Mekkah, Kiai Halim kembali ke Indonesia untuk mengajar. Pada tahun 1911, ia mendirikan lembaga pendidikan Majlisul Ilmi di Majalengka untuk mendidik santri-santri di daerah tersebut. Setahun kemudian setelah lembaga pendidikan tersebut berkembang, Kiai Halim mendirikan sebuah organisasi yang bernama Hayatul Qulub, yang kemudian Majlis Ilmi menjadi bagian di dalamnya.

    Terdapat dua peninggalan K.H. Abdul Halim yang masih bertahan hingga hari ini, yaitu: pesantren Santi Asromo dan organisasi Persatuan Umat Islam (PUI), organisasi kelanjutan Hayatul Qulub yang didirikannya, Organisasi ini bergerak di bidang agama, pendidikan, sosial dan budaya. Jejak perjuangan di dunia pendidikan banyak tersebar di berbagai daerah terutama di Jawa barat yang merupakan provinsi dengan penduduk terbesar di Indonesia

     7. NURKHOLIS MAJID

    Nurkholis Majid  lahir dan dibesarkan di lingkungan keluarga kiai terpandang di Dusun Mojoanyar, Desa Mojotengah, Kecamatan Bareng, Kabupaten Jombang, Jawa Timur.Ayahnya adalah KH Abdul Madjid, dikenal sebagai pendukung Masyumi, sedangkan ibunya bernama Fatonah, putri Kiai Abdullah Sadjad dari Kediri

    Setelah melewati pendidikan di berbagai pesantren, di antaranya Pesantren Darul Ulum Rejoso di Jombang dan Pesantren Gontor di Ponorogo, Cak Nur menempuh studi kesarjanaan IAIN Jakarta (1961-1968) sekaligus aktif menjadi Ketua Umum di HMI & serta merumuskan Nilai Dasar Perjuangan (NDP) HMI, yang kemudian menjadi buku pegangan ideologis HMI.

     Cak Nur dianggap sebagai salah satu tokoh pembaruan pemikiran, pendidikan dan gerakan Islam di Indonesia. Sebagai tokoh pembaruan dan cendikiawan Muslim Indonesia, seperti halnya K.H Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Cak Nur sering mengutarakan gagasan-gagasan yang dianggap kontroversial terutama gagasan mengenai pembaruan Islam di Indonesia. Pemikirannya dianggap sebagai mendorong pluralisme dan keterbukaan mengenai ajaran Islam di Indonesia, terutama setelah berkiprah dalam Yayasan Paramadina dalam mengembangkan ajaran Islam. 

    Cak Nur meninggal dunia pada 29 Agustus 2005 akibat penyakit sirosis hati yang dideritanya. Ia dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata meskipun merupakan warga sipil karena dianggap telah banyak berjasa kepada negara, sebagai penerima Bintang Mahaputra.

     8. K H ABDURAHMAN WAHID

    K H. Abdurrahman Wahid atau yang akrab disapa Gus Dur adalah tokoh santri Indonesia dan pemimpin politik yang menjadi Presiden Indonesia yang keempat dari tahun 1999 hingga 2001. Beliau lahir di Jombang, Jawa Timur, 7 September 1940 – meninggal di Jakarta, 30 Desember 2009 pada umur 69 tahun. Abdurrahman Wahid adalah mantan ketua Tanfidziyah (badan eksekutif) Nahdlatul Ulama dan pendiri Partai Kebangkitan Bangsa

    Beliau salah seorang yang pumya peran penting serta memainkan peran aktif dalam menjalankan serta pembaharuan organisasi Nahdatu Ulama ( NU). Pada awalnya Gus Dur pernah dua kali menolak tawaran bergabung dengan Dewan Penasihat Agama NU. Namun, Wahid akhirnya bergabung dengan Dewan tersebut setelah kakeknya,  KH Bisri Syamsuri, memberinya tawaran ketiga dan akhirnya iapun mengambil tugas ini, Wahid juga memilih untuk pindah dari Jombang ke Jakarta dan menetap di sana dan kemudian dikenal sebagai reforman NU terutama dalam dunia pendidikannya.

     9. AMIEN RAIS

    Amien Rais  adalah tokoh dari kalangan santri yang dikenal sebagai tokoh reformasi di Indonesia, Lahir di Solo pada 26 April 1944, Amien dibesarkan dalam keluarga aktivis Muhammadiyah. Orangtuanya, aktif di Muhammadiyah cabang Surakarta. Masa belajar Amien banyak dihabiskan di luar negeri.

    Sejak lulus sarjana dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta pada 1968 dan lulus Sarjana Muda Fakultas Tarbiyah UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta (1969), ia melanglang ke berbagai negara dan baru kembali tahun 1984 dengan menggenggam gelar master (1974) dari Universitas Notre Dame, Indiana, dan gelar doktor ilmu politik dari Universitas Chicago, Illinois, Amerika Serikat.

    Kembali ke tanah air, Amien kembali ke kampusnya, Universitas Gadjah Mada sebagai dosen. Ia bergiat pula dalam Muhammadiyah, ICMI, BPPT, dan beberapa organisasi lain. Pada era menjelang keruntuhan Orde Baru, Amien adalah cendekiawan yang berdiri paling depan. Tak heran ia kerap dijuluki Lokomotif Reformasi dan tak sedikit peran yang diberikan dalam dunia pendidikan di lingkungan Muhammadiyah serta yang lainnya.

    10. MOHAMMAD SYAFEI

     Mohammad Syafei adalah seorang berdarah Minang yang dilahirkan di Kalimantan Barat, Ia dilahirkan tepatnya di daerah Natan tahun 1895. Syafei berhasil menamatkan pendidikan dasarnya di Sekolah Rakyat pada tahun 1908. Kemudian ia pun meneruskan pendidikanya ke sekolah Raja (Sekolah Guru) dan lulus pada tahun 1914 sambil menempuh pendidikan dari para tokoh agama yang mengelola surau/pondok.

    Perjalanan hidup mengharuskan dirinya hijrah ke Jakarta dan menjadi guru pada sekolah Kartini selama 6 tahun. Di sela-sela kesibukannya, ia menyempatkan diri untuk belajar menggambar. Ia aktif dalam Pergerakan Budi Utomo serta membanu Pergerakan Wanita Putri Merdeka.

    Pada tanggal 31 Mei 1922 Mohammad Syafei berangkat ke negeri Belanda untuk menempuh pendidikan atas biayanya sendiri. Beliau belajar selama tiga tahun dan memperdalam ilmu musik, memggambar, pekerjaan tangan, sandiwara termasuk memperdalam pendidikan dan keguruan. Pada tahun 1925, Beliau kembali ke Indonesai untuk mengabdikan ilmu pengetahuannya.

    Sekembalinya dari Belanda, Syafei menerapkan ilmunya dengan mengelola sebuah sekolah yang kemudian dikenal dengan Sekolah INS Kayutanam. Sekolah ini lebih dikenal dengan nama Sekolah Kayutanam, sebab sekolah ini didirikan di kayutanam.

    Kayutanam adalah sebuah nama desa kecil di Sumatara barat, sedangkan INS sebuah lembaga pendidikan yang merupakan akronim dari Indonesische Nederlandsche School. Cikal bakal sekolah ini adalah milik jawatan kereta api yang dipimpin oleh ayahnya yang pada tanggal 31 Oktober 1926 diserahkan kepada M. Syafei untuk dikelola. Akibat kemampuan Syafei mengelola sekolah ini kemudian sekolah ini tersohor dengan nama Ruang Pendidikan Kayutanam.

     11. DR. MUHAJIR EFFENDY, M.A.P

    Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia pada Kabinet Kerja yang menjabat sejak 27 Juli 2016 menggantikan Anies Baswedan datang dari kalangan santri. Sebelumnya ia pernah menjabat sebagai Rektor Universitas Muhammadiyah Malang tiga periode yaitu tahun 2000–2016. Selain itu Muhadjir adalah Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Bidang Pendidikan dan Kebudayaan, ia lahir di Madiun pada tanggal 29 Juli 1956.

    Muhadjir menempuh pendidikan sarjana muda di IAIN Malang, kemudian meraih gelar sarjana di IKIP Negeri Malang (saat ini menjadi Universitas Negeri Malang). Ia lalu menempuh pendidikan pascasarjana Universitas Gadjah Mada dengan gelar Magister Administrasi Publik (MAP) pada tahun 1996. Kemudian pada 2008, Muhadjir berhasil menyelesaikan pendidikan strata tiga bidang sosiologi militer di Program Doktor Universitas Airlangga. Selain itu dia juga beberapa kali mengikuti kursus di luar negeri antara lain di National Defence University, Washington, D.C. pada tahun 1993, dan di Victoria University, British Columbia, Kanada pada tahun 1991. Muhadjir saat ini tercatat sebagai Guru Besar Sosiologi Jurusan Pendidikan Luar Sekolah Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang. Selain itu, ia juga menjadi pengajar di Direktorat Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Malang[2] pada bidang Sosiologi.

    Sejak 2015, Muhadjir menjadi Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah periode 2015 sampai 2020. Muhadjir pernah mendapatkan tanda jasa yaitu Satayalencana Karya Satya XX pada 2010. Ia menduduki jabatan sebagai rektor di UMM sebanyak tiga kali. Muhadjir menjabat sebagai rektor pada periode 2000–2004, 2004–2008, dan periode 2008–Februari 2016. Selain itu, Muhadjir juga aktif menulis sejumlah buku di antaranya Bala Dewa, Seperti Menyaksikan Dahlan Muda, dan juga Muhammadiyah dan Pendidikan di Indonesia. Semasa muda, Muhadjir aktif sebagai wartawan kampus hingga mendirikan surat kabar kampus UMM, BESTARI pada 1986.

    12. SYAMSI ALI

    Muhammad Syamsi Ali lahir di Bulukumba, Sulawesi Selatan, 5 Oktober 1967 adalah seorang santri dari pesantren yang kiprahnya telah mendunia,  beliau diberi kepercayaan untuk menjadi imam di Islamic Center of New York dan direktur Jamaica Muslim Center, sebuah yayasan dan masjid di kawasan timur New York, Amerika Serikat, yang dikelola komunitas muslim asal Asia Selatan.

    Riwayat pendidikan dan kesantrianna adalah ketika setelah menyelesaikan SD di Desa Lembanna, Kecamatan Kajang, Kabupaten Bulukumba Sulawesi Selatan, oleh orang tuanya ia dimasukkan ke Pondok Pesantren Muhammadiyah Darul-Arqam Makassar.

    Setelah tamat dari pesantren 1987, Syamsi Ali mengabdikan diri sebagai staf pengajar di almamaternya hingga akhir 1988. Ia mendapat tawaran beasiswa dari Rabithah Alam Islami untuk melanjutkan studi ke Universitas Islam Internasional, Islamabad, Pakistan.

    Jenjang S1 dalam bidang Tafsir diselesaikan tahun 1992 dan dilanjutkan pada universitas yang sama dan menyelesaikan jenjang S2 dalam bidang Perbandingan Agama pada tahun 1994. Selama studi S2 di Pakistan, Syamsi Ali juga bekerja sebagai staf pengajar pada sekolah Saudi Red Crescent Society di Islamabad. Dari sekolah itulah kemudian mendapat tawaran untuk mengajar pada The Islamic Education Foundation, Jeddah, Arab Saudi pada awal tahun 1995.

    Pada musim haji tahun 1996, Syamsi Ali mendapat amanah untuk berceramah di Konsulat Jenderal RI Jeddah di Arab Saudi. Dari sanalah bertemu dengan beberapa jamaah haji luar negeri, termasuk Dubes RI untuk PBB, yang sekaligus menawarkan kepadanya untuk datang ke New York, Amerika Serikat. Tawaran ini kemudian diterima Syamsi Ali dan ia pindah ke New York pada awal tahun 1997.

    Beliau saat ini dikenal juga sebagai tokoh yang mendirikan pesantren pertama di Amerika serikat. Pesantren ini  berlokasi di kota Moodus, Connecticut, sekitar 110 kilometer dari New York yang bercirikan model pesantren yang ada di Nusantara.

    Demikianlah 12 Santri yang cukup berpengaruh versi Diva Pendidikan Semoga bermanfaat. Ingin mendapatkan perangkat pembelajaran kurikulum 2013 edisi revisi 2018 terbaru dan lengkap? Dapatkan disini