BIG PROMO - SPESIAL DISKON 50%. WAKTU TERBATAS. KLIK DISINI UNTUK MENDAPATKAN KUPONNYA >>



Dua Mantra Guru Zaman Now

Posted by Super Marketer on

Dua mantra guru zaman now dalam menghadapi situasi saat ini dengan pesatnya perkembangan teknologi menuntut perubahan paradigma berpikir dan bertindak seorang guru dalam melakukan transfer juga transformasi ilmu dan pengetahuan dengan anak didiknya.

Information Technology (IT) atau “Teknologi Informasi”, adalah ketika kita dituntut menguasai ilmu computer serta sistim operasinya agar kita mampu mengolah segala macam sumber informasi di ranah digital sehingga kita tidak dianggap gaptek dengan perkembangan teknologi, mampu memanfaatkan fitur-fitur digital seperti e-mail, akun media sosial hingga membuat sebuah website.

Saat ini ada kebutuhan lain yang mulai dijadikan acuan dalam perkembangan pergaulan global dengan berkembangnya Data Technology (DT) atau “Teknologi Data” adalah sebuah cara  menggunakan data untuk memahami orang lain, sebagai kelanjutan dari kemampuan menguasai Teknologi Informasi yang dijelaskan di atas.

IT (Information Teknologi) adalah sebuah bentuk mesin yang menjalankan otomatisasi untuk melayani manusia. Ia bersifat self-control dan self-management. IT membuat manusia berperilaku seperti robot. IT adalah sesuatu yang; I have, you don't have.

DT adalah mesin yang dibuat untuk memahami manusia. Ia menstimulasi produktivitas manusia dan melayani banyak orang. DT membuat robot berperilaku seperti manusia. DT adalah sesuatu yang; You have, I don't have, mengakumulasi data yang terserak yang diolah menjadi kumpulan informasi yang lebih presisi tentang aktifitas yang kita lakukan.

Era IT sudah lewat dan tak lagi cukup. Sama seperti ketika untuk bepergian orang membuat sepeda, ternyata pada perkembangannya membuat sepeda saja tidak lagi cukup, tapi harus membuat sepeda yang bisa berjalan sendiri, maka lahirlah sepeda motor. Begitupun dengan Teknologi Informasi. Pada saat ini patut kita nyatakan sebuah era baru “Selamat datang di era DT (Data Technology)”.

Diawali ketika penggunaan computer mulai marak, rata-rata komputer personal di tahun 1980-an hanya bisa memproses data dalam bentuk sangat sederhana: teks, angka, gambar dan string (simbol). Ia juga stand-alone atau berdiri sendiri. Untuk memindahkan data ke komputer lain dilakukan lewat floppy disk.

Di tahun 1990-an, data yang bisa diproses makin banyak: audio dan video. Data sudah bisa dipertukarkan dalam sebuah jaringan yang terdiri dari beberapa komputer. Kemudian kita kenal internet. Pertukaran data menjadi masif dari semua pengguna komputer di seluruh dunia.

Revolusi komputasi di tahun 2000-an adalah ketika komputer makin kecil sekaligus makin cepat memproses data. Kita kenal dengan nama gawai atau gadget: smart phone, tablet, wearable device, iPod, dll. Semuanya terhubung ke internet dimana data saling dipertukarkan.

Perkembangan situasi saat ini, komputer tak lagi digunakan manusia untuk bekerja seperti tahun 80-90-an. Ia jadi perangkat kebutuhan sehari-hari untuk komunikasi, hiburan, kesehatan, informasi dan gaya hidup. Orang saat ini terhubung ke internet bukan lagi hanya untuk mengakses data dari penyedia data di masa lalu seperti membaca situs berita. Tapi semua orang menciptakan data dalam bentuk update di media sosial, blog, wiki, forum, dll.

Inilah bentuk-bentuk data yang diciptakan, disimpan, diolah dan dipertukarkan di era ini: teks, angka, string, gambar, audio, video, geospacial hingga sensor.

Data-data ini diciptakan dan ditransaksikan oleh semua manusia pengguna perangkat komputasi, kita semua. Ia tak hanya berupa data yang kita transaksikan secara sadar, meng-update wall di Facebook misalnya. Tapi juga mentransaksikan data yang dibuat secara tidak sadar, antara lain: lokasi, perilaku saat mengakses internet atau media sosial, aplikasi yang kita gunakan dan perilaku kita atas aplikasi tersebut, sampai pola hidup kita yang direkam wearable device.

Perkembangan dunia digital dan perilaku manusia yang menggunakannya, sehingga data serta perilaku  dengan perangkat yang dgunakan. Atas semua yang telah disampaikan tersbut menjadikan bahwa “Ponsel kita lebih kenal siapa diri kita dibanding diri kita sendiri”.

Setiap hari, seluruh perangkat komputasi yang digunakan manusia menciptakan 2,5 quintiliun byte data, atau 2,5 x 10 pangkat 18, atau 2,5 triliun triliun. Dan tahukah Anda, dari seluruh data komputasi yang tersimpan sejak komputer ditemukan hingga hari ini, 90%-nya adalah data yang diciptakan 2 tahun belakangan.

Bila setiap hari ada 2,5 quintiliun byte data yang ditransaksikan manusia lewat mesin. Data-data ini tak hanya raksasa, tapi juga terpisah-pisah dan tak terstruktur. Akan digunakan untuk apa data ini? Apakah hanya jadi 'sampah' di mesin penyimpan? Inilah perbedaan besar antara IT dan DT.

IT adalah ketika kita menciptakan teknologi yang bisa menciptakan, merekam, mentransaksikan data dan kemudian disimpan dalan database. DT adalah ketika kita menciptakan teknologi yang mengolah data-data tersebut menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi kita. Tanpa DT, 2,5 quintiliun byte data itu cuma sekedar angka yang tak ada artinya.

Ilustrasi sederhana dalam bentuk cerita imaginer berikut ini untuk memahami Big Data Secara Sederhana: 

– Hallo…ini Gojex?

+ Bukan… ini Gofoog.

– Oh maaf salah sambung.

+ Anda tidak salah sambung. Gojex dan Gofoog itu satu grup. Data kami bisa saling tukar.

– Kalau begitu bisa belikan pecel Madiun di warung bu Wenny?

+ Menurut data kami dalam seminggu ini Anda sudah empat kali beli pecel.

– Apa salahnya? Itu kan hak saya. Itu kegemaran saya.

+ Tapi menurut catatan kami asam urat Anda lagi naik. Perlu mengurangi makan sayur kacang panjang.

– Saya tidak punya asam urat. Ngawur saja. Saya ini rajin olahraga.

+ Menurut catatan kami Anda sudah enam bulan tidak olahraga. Kamera yang dipasang di sekitar rumah Anda tidak menunjukkan Anda pernah keluar rumah dengan sepatu olahraga.

– Trus sebaiknya saya pesan makanan apa?

+ Ini lagi ada promo buntil daun pepaya. Harganya cuma Rp 10.000. Pas dengan saldo uang Anda di bank.

– Hah? Anda tahu saldo uang saya di bank? Ini sudah keterlaluan. Melanggar privacy. Melanggar hak-hak asasi manusia.

+ Data kami menunjukkan kartu kredit Anda baru saja ditolak. Saat Anda belanja lipstik Channel. Saldonya tidak cukup.

– (Dalam hati) Upsssss…. jangan-jangan istri saya juga tahu…cilaka!

+ Bagaimana? kok diam? Jadi pesan buntil atau tidak?

– Ya… sudah..saya pesan buntil daun pepaya. Satu. Tapi soal lipstik tadi jangan sampai bocor ya….

+ Dikirim ke mana? Soalnya menurut data kami rumah Anda lagi disegel bank.

– (Dalam hati: Huhhh…. ini sudah benar-benar telanjang. Kurang ajar. Tapi apa boleh buat) … Hemmm…. kirim ke alamat ini (sambil mendektekan alamat baru).

+ Menurut data kami alamat itu kantor sementara partai Gorengan. Yang baru sekali ini lolos ferifikasi KPU.

– Iya… saya lagi jadi tim sukses untuk Pilkada di partai itu.

+ Tapi menurut data kami penduduk sekitar kantor Anda bukan pendukung calon dari partai Anda. Selamat menikmati buntil daun pepaya….

 

Hari ini, Big data telah menjadi modal. Beberapa perusahaan teknologi terbesar di dunia. Sebagian besar nilai yang mereka tawarkan berasal dari data mereka, yang terus-menerus mereka analisis untuk menghasilkan lebih banyak efisiensi dan mengembangkan produk baru.

Terobosan teknologi baru-baru ini telah secara eksponensial mengurangi biaya penyimpanan dan komputasi data, membuatnya lebih mudah dan lebih murah untuk menyimpan lebih banyak data daripada sebelumnya. Dengan peningkatan volume big data sekarang lebih murah dan lebih mudah diakses sehingga membantu untuk mempercepat membuat keputusan bisnis yang lebih akurat dan tepat.

Menemukan nilai dalam big data tidak hanya tentang menganalisisnya (yang merupakan manfaat lain). Ini adalah proses penemuan menyeluruh yang membutuhkan analis yang berwawasan, pengguna bisnis, dan eksekutif yang mengajukan pertanyaan yang tepat, mengenali pola, membuat asumsi, dan memprediksi perilaku.

Algoritma merupakan proses pemecahan dan pemilahan data yang ada untuk dijadikan pemetaan sebuah kebijakan ataupun keputusan strategis yang diambil dalam menghadapi permasalahan yang terjadi dan berubah begitu cepat setiap saat. 

Algoritma bisa menguraikan onggokan data seruwet dan secampur-aduk apa pun menjadi informasi nyata. Big data adalah onggokan data ruwet yang jumlahnya mencapai exabytes. Satu exabytes adalah 1.000 petabytes. Satu petabytes adalah 1.000 terabytes.

Big data. Algoritma. Dua kata itu kini jadi mantra baru Barang siapa bisa mendapatkan big data dan mampu mengolahnya melalui algoritma dialah jagonya. Jago apa saja: bisnis, politik, intelijen, pelatihan dan pendidikan, pengelolaan kesehatan, sampai ke menjual bra dan celana.