BIG PROMO - SPESIAL DISKON 50%. WAKTU TERBATAS. KLIK DISINI UNTUK MENDAPATKAN KUPONNYA >>



Bahasa Indonesia Sebagai Lingua Franca

Posted by Super Marketer on

Bahasa Indonesia sebagai lingua franca sudah semakin banyak alasan untuk segera dijadikan salah satu bahasa pengantar, setidaknya untuk kawasan Asia tenggara. Lingua Franca menurut asal katanya dari bahasa Latin yang artinya  "bahasa bangsa Franka", tetapi sebagai istilah linguistik artinya adalah "bahasa pengantar" atau "bahasa pergaulan" di suatu tempat di mana terdapat penutur bahasa yang berbeda-beda.

Sebagai contoh adalah bahasa Melayu atau bahasa Indonesia di Asia Tenggara. Di kawasan ini dua bahasa populer ini tidak hanya dipergunakan oleh para penutur di kampung-kampung atau seorang ibu terhadap anaknya, namun telah banyak dipergunakan oleh orang banyak, mendijadikannya sebagai penutur kedua bahasa pengantar sehari-hari  dalam pergaulan mereka. Bahasa tersebut antara lain adalah bahasa Inggris, Prancis dan bahasa arab di pentas internasional.

Bahasa Indonesia sangat berpotensi menjadi bahasa pengantar di kawasan Asean. Potensi tersebut berdasarkan besarnya penggunaan bahasa melayu sebagai akar bahasa Indonesia di kawasan Asean, secara sosial ekonomi jumlah penutur aktif dan pasif bahasa melayu di kawasan Asean sekitar 268 juta jiwa atau 40% dari jumlah populasi penduduk di kawasan Asean.

73 tahun sudah Indonesia menjadi negara yang menyatakan merdeka dari jeratan kolonialisme. Sumpah pemuda yang dihelat pada 28 Oktober 1928 yang diinisasi oleh Perhimpunan pelajar-Pelajar Indonesia (PPPI) adalah salah satu momentum heroik dan patriotik yang dilakukan kawula muda. Ikrar yang menjadi salah satu katalisator kemerdekaan dan kristalisasi semangat berdirinya bangsa ini. Salah satu klausul konsensus pemuda bersumpah untuk menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan.

Perjuangan menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu bukan tanpa alasan, tetapi dengan argumetasi kolektif dan futuristik bahwa bangsa ini perlu mempunyai satu bahasa yang akan mempermudah akselerasi kemerdekaan dan merawat kedaulatan Negara. Bahkan Soeharto pada tahun 1995 pernah mencanangkan bahwa bahasa Indonesia harus menjadi bahasa pengantar (Lingua Franca) di kawasan ASEAN.

Walaupun pasca proklamasi Indonesia masih mengalami penjahan oleh Belanda. Rentetan peristiwa berdarah, ekploitasi sumber daya alam dan manusia oleh kolonial membuat rakyat Indonesia sadar akan pentingnya persatuan dan kesatuan. Persatuan dan kesatuan berbagai elemen masyarakat mampu memupuk rasa kebangsaan untuk melawan kolonialisme dan imperialisme. Oleh karena itu, persatuan, kesatuan dan rasa kebangsaan merupakan warisan dan idealisme berharga yang harus tetap dipertahankan oleh generasi muda, bukan perbedaan suku, agama, ras  dan antargolongan yang diagungkan dan diprioritaskan. Karena perbedaan dan keanekaragaman yang tidak dibingkai dengan persatuan dan kesatuan akan menghantarkan Indonesia pada kehancuran dan disitegrasi bangsa.

Wacana menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar (lingua Franca) di kawasan ASEAN adalah salah satu agenda besar negara untuk memperkuat posisi dan dominasi Indonesia dalam percaturan ekonomi-politik di kawasan ASEAN.

Akhir tahun 2015 Negara-negara ASEAN atau MEA (Masyarakat Ekonomi Asean) sudah berkomitmen untuk membuka keran perdagangan bebas dan transaksi ekonomi melalui penghapusan kebijakan negara yang terkesan menghambat akselerasi peningkatan daya saing ekonomi antar negara. Dalam proses transaksi guna menggenjot peningkatan daya saing ekonomi dibutuhkan alat komunikasi yang mampu menghubungkan pihak-pihak yang ingin melakukan kerja sama tersebut. Lalu apakah bahasa Indonesia mampu menjadi bahasa pengantar (lingua Franca) di kawasan ASEAN?

Bahasa Melayu adalah sumber dan akar bahasa Indonesia. Pemakaian bahasa Melayu sebagai bahasa pengantar (lingua Franca) tidak hanya di tanah Nusantara. Tetapi hampir di berbagai Negara Asia Tenggara. selanjutnya, jumlah penutur bahasa Melayu hampir tersebar di 50% wilayah Asia Tenggara selain Indonesia dan Malaysia.

Secara sosio-kultural, struktur gramatikal dan fonologi bahasa Melayu lebih mudah untuk dipelajari dari pada bahasa yang digunakan oleh Negara Asean lain, sehingga minat mempelajari bahasa Melayu setiap tahunnya terus meningkat. Tetapi, apakah potensi tersebut berbading lurus dengan realita penggunaan bahasa Indonesia di dalam negeri?

Dewasa ini, globalisasi turut berdampak signifikan terhadap penurunan minat penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Seorang ahli bahasa, Michel Krauss mengklasifikasikan keadaan bahasa-bahasa dunia ke dalam tiga tipologi:

  1. Bahasa yang punah (Moribund language). Maksudnya, bahasa ini sudah tidak lagi digunakan dan dipelajari oleh masyarakat.
  2. Bahasa yang terancam punah (endangered languages). Jelasnya adalah bahasa-bahasa yang masih dipelajari oleh anak-anak dan digunakan oleh masyarakat. Tetapi, pemakaiannya sudah tidak memperdulikan baik dan benarnya bahasa dan sudah mulai ditinggalkan pada abad yang akan datang.
  3. Bahasa--bahasa yang masih aman (safe language). Maksudnya, bahasa-bahasa yang terlegitimasi dan terpantau pemakainnya oleh pemerintah dan masayarakat dengan sadar menggunakan bahasa tersebut dengan baik dan benar. Berdasarkan pengklasifikasian di atas dan mengamati kondisi penggunaan bahasa Indonesia yang cenderung tergeserkan oleh bahasa asing maka bahasa Indonesia masuk ke dalam endangered languages.

Secara konstitusional, bahasa Indonesia merupakan jati diri bangsa Indonesia. Legitimasi tersebut tercantum di Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945 dan Undang-undang no.24 tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, Lambang Negara dan Lagu Kebangsaan. Pada pasal 36 ayat 1 menyatakan bahwa bahasa Indonesia wajib digunakan dalam nama geografi di Indonesia, dan ayat 3 bahwa bahasa Indonesia wajib digunakan nama bangunan atau gedung, jalan, pemukiman, perkantoran,  komplek perdagangan, merek dagang, lembaga usaha, lembaga pendidikan, dan organisasi yang didirikan oleh warga Indonesia atau badan hukum Indonesia. Pasal 4 mempertegas bahwa penggunaan bahasa daerah atau asing dibolehkan dengan catatan harus berdasarkan nilai sejarah, budaya, adat istiadat dan keagamaan.

Fakta yang kita saksikan saat ini, jika diamati banyak nama-nama gedung, merek dagang, komplek perdagangan, iklan di ruang publik, papan petunjuk, dan apartemen yang dimiliki oleh warga Indonesia atau badan Hukum Indonesia menggunakan bahasa asing. Ini menunjukan bahwa penggunaan bahasa Indonesia sudah tergeserkan oleh bahasa asing. Alasannya, tidak lain karena urusan branding. Padahal penamaan jalan dan bangunan di Indonesia selalu mempunyai nilai historis dan ekologis. Fenomena tersebut merupakan hal perlu kita waspadai yang mengarah pada tercerabutnya jati diri bangsa Indonesia dari tanahnya sendiri.

Berdasarkan hal di atas timbul pertanyaan, apakah bahasa Indonesia masih memiliki potensi menjadi bahasa pengantar “lingua franca” di kawasan Asean? Tentunya, potensi tersebut masih ada dan akan sangat mungkin untuk terus diupayakan. Karena, sampai saat ini pemerintah Indonesia melalui Kementerian luar negeri terus menyosialisasikan peran dan fungsi bahasa Indonesia  dan membuka kelas khusus mempelajarinya di pelbagai Negara Asean. Akan tetapi, potensi tersebut akan nihil terwujud jika setiap elemen masyarakat Indonesia tidak sadar dan enggan untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar.

Pemuda hari ini harus terus mengingat sejarah sumpah pemuda bagaimana para pemuda terdahulu memperjuangkan dengan darah, keringat dan tenaga untuk menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan.

Mari kita wujudkan Negara Indonesia yang berdaulat dengan tetap mempertahankan jati diri bangsa melalui penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar.